Cerita ini berawal di awal tahun 2008 bulan maret tepatnya, entah tanggal berapa saya lupa. Ingat ketika itu bersama ibu bercanda ria di samping rumah yang terletak tak jauh dari rumah abadi kita nanti, sambil tak lupa kopi dan sebatang roko kami bersanda gurau bercerita tentang masa depan yang akan aku tempuh nanti. Kadang memang menggelikan ketika kita membayangkan apa yang akan terjadi padahal kita tak pernah tau, semua terasa akan begitu indah. Masih sibuk aku memegang handphone kesayanganku ketika itu, ia sepi seakan bisu, tak pernah ada bunyi bersela antara kebisuannya, aku selalu coba untuk memutarnya setiap saat siapa tau ada yang bersela dan sudi memaparkan tawa di balik pesan nya, dan kala itulah ku temui nomor yang menjadi tujuan hidupku. Sebuah nomor berakhiran 668818.
Awal dari ketidaksengajaan yang berakhir sebagai tujuan. Ibuku menyimpulkan senyumnya membisikiku tentang kegelisahan yang selama ini aku takutkan, ia begitu memahami apa yang aku rasakan walau aku tak pernah mengatakan. Senyum kembali bersahutan antara heningnya pagi. Angin musim kemarau membawa sejuta kebahagiaan, dibalik sana ada wanita berjalan antara kelas dan kantin diburu waktu istirahat nya yang hanya sejenak, tawa lepas walau hanya dalam bentuk suku kata dan tanda baca, dan tiba tiba aku begitu menginginkannya, entah mengapa....
Tiga hari berlalu dalam senyum selalu tak pernah lepas, handphone ku genggam dan asap aku kebulkan antara ringannya tawa ia, lalu aku beranikan diri berkata apa yang ada dalam hati, bukan cinta, tapi suka, tawa, dan berbagi. Berbagi apa yang kita punya lebih baik daripada apa yang kita punya bukan? . Walau tanpa muka aku tak peduli karna itu tak penting, adalah lebih penting bila kita nyaman dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang kita mau. Bukan emosi tapi ketenangan, itu yang aku rasakan kala itu, Sampai akhirnya 25 maret 2008 hari yang cerah masih di temani angin kemarau yang cukup menusuk tulang ku, kami bertatap muka walau aku buta dan berarah kemana saja aku suka namun tujuan tak pernah sirna. Hingga akhirnya sampai di sebuah perteduhan di mana nanti aku akan banyak berteduh di sana.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar