Senin, 20 Februari 2012
Selasa, 28 Desember 2010
Kusudahi Semua Ini
Setidaknya malam ini tetap gelap
Seperti senyumanku yang lenyap
Dimakan sejuknya air mata
Binasa seiring langkahku menuju luka
Seperti senyumanku yang lenyap
Dimakan sejuknya air mata
Binasa seiring langkahku menuju luka
Aku tidak bisa menulis lagi
tak ada yang perlu kutulis lagi
jiwaku telah pergi bersamamu embun
28 akhir tahun 2010
Minggu, 12 Desember 2010
Langkah Pertama
Aku tak mau menghapus masalalu, masa kini dan masa yang akan datang tak akan ada tanpa masa lalu, maka biarlah tetap begini, tetap sama seperti 22 tahun yang lalu, saat aku pertamakali menghirup oksigen kepedihan dari bumi ini. begitu juga dengan blog ini, aku akan tetap menulis, bukan hanya tentang embun, tapi tentang kerikil, daun, pagi, dan semua yang menjadi arah tak pasti. Saat nya kini aku beranjak pergi, bukan dari kenyataan, tapi dari kegelapan, kegelapan hidup yang tak terberkati.
Langkah Perdana
di pojok sepi masa lalu
minggu 12 desember 2010 23.14
Jumat, 01 Oktober 2010
Idiologi Ulu Hati
Pertentangan tentang idiologi ulu hati
Memilih mati atau lahir kembali
Menjadi peluru atau mesiu
Tak usah di gurat kalian tetap bisu
Membelah lalu kalian berubah wajah
Hanya pelipur nafsu yang berdarah
Membiduk mabuk kalian busuk
Sungguh aku yak mau bergelut dengan sebatang rusuk
Kamis, 30 September 2010
Teriakan Benci
Aku termangu memandang tak mau lugu
Terdampar di tengah pasir penuh peluh
Penuh gelisan
Dan aku padam di tiup amarah
Didera redupnya angkara
Menjadi dungu karena jemu
Aku akan menepi
Menuju pagi yang dingin berwarna jingga
Meneriakan benci
Mencuci semua dendam
Menjual tekad pada khayal
Dan tunduk pada ratu yang membisu
Terdampar di tengah pasir penuh peluh
Penuh gelisan
Dan aku padam di tiup amarah
Didera redupnya angkara
Menjadi dungu karena jemu
Aku akan menepi
Menuju pagi yang dingin berwarna jingga
Meneriakan benci
Mencuci semua dendam
Menjual tekad pada khayal
Dan tunduk pada ratu yang membisu
Seperti Mereka ?
Aku ingin seperti mereka
Bebas lepas mencerna semua tawa
Menggerutu memaki malam gelap
Tak terima awan menghitam
Tak terima petir yang memekakan
Tapi tidak aku
Aku hanya ingin pulang
Teringat akan hangatnya kopi
Memandang hujan tenang
Sambil melamun membayangkan awan berkencan
Aku tak ingin bijaksana
Aku hanya ingin sederhana
Tak perlu seperti mereka
Ringkih membasmi setiap keringat di pipi
Aku tak mau peduli hanya pada diri sendiri
Bebas lepas mencerna semua tawa
Menggerutu memaki malam gelap
Tak terima awan menghitam
Tak terima petir yang memekakan
Tapi tidak aku
Aku hanya ingin pulang
Teringat akan hangatnya kopi
Memandang hujan tenang
Sambil melamun membayangkan awan berkencan
Aku tak ingin bijaksana
Aku hanya ingin sederhana
Tak perlu seperti mereka
Ringkih membasmi setiap keringat di pipi
Aku tak mau peduli hanya pada diri sendiri
Aku Ingin Seperti Kemarin
Aku ingin tertidur dari siang penuh penat
Menyerah pada hujan aku pasrah basah
Tak seperti biasanya aku terjaga dari teriknya matahari panas membakar ara
Menjemur semua luka hingga kering merona
Aku hanya terdiam di sudut dimana dinding lembab membuat tubuhku menggigil
Bukan kedinginan tapi kepanasan
Kepanasan akan sejuknya dosa menyala
Mengoyak ngoyak luka lama
Aku ingin seperti kemarin
Ketika mata tenang menutup katup
Mencerna setiap protein yang dulu aku hirup
Namun getir di dalam dada seperti meronta
Aku lelah terjerambah
Sempoyongan aku ingin mengalah
Lebih baik menyerah saja
Pagi buta di depan meja
1 oktober 2010 - 04.22 dini hari
Rabu, 29 September 2010
Prolog
Cerita ini berawal di awal tahun 2008 bulan maret tepatnya, entah tanggal berapa saya lupa. Ingat ketika itu bersama ibu bercanda ria di samping rumah yang terletak tak jauh dari rumah abadi kita nanti, sambil tak lupa kopi dan sebatang roko kami bersanda gurau bercerita tentang masa depan yang akan aku tempuh nanti. Kadang memang menggelikan ketika kita membayangkan apa yang akan terjadi padahal kita tak pernah tau, semua terasa akan begitu indah. Masih sibuk aku memegang handphone kesayanganku ketika itu, ia sepi seakan bisu, tak pernah ada bunyi bersela antara kebisuannya, aku selalu coba untuk memutarnya setiap saat siapa tau ada yang bersela dan sudi memaparkan tawa di balik pesan nya, dan kala itulah ku temui nomor yang menjadi tujuan hidupku. Sebuah nomor berakhiran 668818.
Awal dari ketidaksengajaan yang berakhir sebagai tujuan. Ibuku menyimpulkan senyumnya membisikiku tentang kegelisahan yang selama ini aku takutkan, ia begitu memahami apa yang aku rasakan walau aku tak pernah mengatakan. Senyum kembali bersahutan antara heningnya pagi. Angin musim kemarau membawa sejuta kebahagiaan, dibalik sana ada wanita berjalan antara kelas dan kantin diburu waktu istirahat nya yang hanya sejenak, tawa lepas walau hanya dalam bentuk suku kata dan tanda baca, dan tiba tiba aku begitu menginginkannya, entah mengapa....
Tiga hari berlalu dalam senyum selalu tak pernah lepas, handphone ku genggam dan asap aku kebulkan antara ringannya tawa ia, lalu aku beranikan diri berkata apa yang ada dalam hati, bukan cinta, tapi suka, tawa, dan berbagi. Berbagi apa yang kita punya lebih baik daripada apa yang kita punya bukan? . Walau tanpa muka aku tak peduli karna itu tak penting, adalah lebih penting bila kita nyaman dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang kita mau. Bukan emosi tapi ketenangan, itu yang aku rasakan kala itu, Sampai akhirnya 25 maret 2008 hari yang cerah masih di temani angin kemarau yang cukup menusuk tulang ku, kami bertatap muka walau aku buta dan berarah kemana saja aku suka namun tujuan tak pernah sirna. Hingga akhirnya sampai di sebuah perteduhan di mana nanti aku akan banyak berteduh di sana.
Bersambung...
Awal dari ketidaksengajaan yang berakhir sebagai tujuan. Ibuku menyimpulkan senyumnya membisikiku tentang kegelisahan yang selama ini aku takutkan, ia begitu memahami apa yang aku rasakan walau aku tak pernah mengatakan. Senyum kembali bersahutan antara heningnya pagi. Angin musim kemarau membawa sejuta kebahagiaan, dibalik sana ada wanita berjalan antara kelas dan kantin diburu waktu istirahat nya yang hanya sejenak, tawa lepas walau hanya dalam bentuk suku kata dan tanda baca, dan tiba tiba aku begitu menginginkannya, entah mengapa....
Tiga hari berlalu dalam senyum selalu tak pernah lepas, handphone ku genggam dan asap aku kebulkan antara ringannya tawa ia, lalu aku beranikan diri berkata apa yang ada dalam hati, bukan cinta, tapi suka, tawa, dan berbagi. Berbagi apa yang kita punya lebih baik daripada apa yang kita punya bukan? . Walau tanpa muka aku tak peduli karna itu tak penting, adalah lebih penting bila kita nyaman dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang kita mau. Bukan emosi tapi ketenangan, itu yang aku rasakan kala itu, Sampai akhirnya 25 maret 2008 hari yang cerah masih di temani angin kemarau yang cukup menusuk tulang ku, kami bertatap muka walau aku buta dan berarah kemana saja aku suka namun tujuan tak pernah sirna. Hingga akhirnya sampai di sebuah perteduhan di mana nanti aku akan banyak berteduh di sana.
Bersambung...
Dalam Pagi Buta Kesempurnaan Tentang Kita Ku Petakan
Pagi ini terasa tenang ditemani embun, riak air di kolam begitu menyejukan,
pukulan piano di tuts rendah makin menghentak ku dalam kesendirian, mengajak ku tenggelam dalam ringkihnya kerinduan.Setiap saat dalam keheningan membuatku yakin akan ada nya kepastian, kepastian bukan akan adanya tuhan namun kepastian pada apa yang aku rindukan, bahwa sebenarnya apa yang kita rasakan adalah bukan kepedihan. Kita adalah sama dalam segala hal dan berbeda dalam banyak pandangan. Kita adalah apa yang tak pernah lelah menjemput awan, membuahkan kenestapaan yang tak pernah akan ada arah. membasmi setiap jalan berliku adalah tujuan menuju kebahagiaan.
Semua ini berawal dengan keindahan dan harus disempurnakan dengan kematian.
Menjelang pagi dalam renungku
30 september 2010 - 04.38 dini hari
Kamis, 23 September 2010
Tak lagi kini
Sejenak aku merasa semua ini begitu percuma, karna kepedulian hanya menjadi sia -sia. Dulu aku begitu mengenal mereka, tapi tidak kini. Entah apa yang ada di pikiran nya, mungkin ini begitu berarti untuk mereka dan aku selalu coba untuk memahaminya. Aku tak pernah lelah untuk mengingatkan kalian kawan, karna setiap apa yang kalian rasakan akupun merasakan hal yang sama. Tapi tak lagi kini, aku merasa begitu asing di hadapan kalian,menjadi beban antara pahitnya kehidupan,bukan menjadi garam di semua lautan, aku ingin kita kembali seperti dulu, seperti saat ibuku membuatkan secangkir kopi untuk kita bersama. Lalu tawa pun menjadi jenaka, dan kadang aku tak pernah mau dewasa.
Kapan kalian kembali kawan???
sebuah catatan kerinduan untuk kalian kawan
Kapan kalian kembali kawan???
sebuah catatan kerinduan untuk kalian kawan
23 september 2010
Kita
Saat itu ketika langit tak lagi menyala
Aku ingin selalu ada di sampingmu
Menemanimu minum susu
Mengajakmu bercerita tentang indahnya mega
Tentang kita
Ketika bumi ini menjadi landai
Namun harapanku padamu tak pernah usai
Sampai nanti hujan tak mau menyentuh tanah
Aku berharap kau selalu ada di sana
Membasmi segala sepi dengan seribu mimpi - mimpi
Lalu aku akan membawakanmu selusin kue kering
Agar kau dapat menikmati susu mu
Menemanimu selalu sampai gelas itu penuh oleh udara hampa
Aku mau
Selamanya kita
Bukan kau atau aku
Tapi kita
untuk : embun
Aku ingin selalu ada di sampingmu
Menemanimu minum susu
Mengajakmu bercerita tentang indahnya mega
Tentang kita
Ketika bumi ini menjadi landai
Namun harapanku padamu tak pernah usai
Sampai nanti hujan tak mau menyentuh tanah
Aku berharap kau selalu ada di sana
Membasmi segala sepi dengan seribu mimpi - mimpi
Lalu aku akan membawakanmu selusin kue kering
Agar kau dapat menikmati susu mu
Menemanimu selalu sampai gelas itu penuh oleh udara hampa
Aku mau
Selamanya kita
Bukan kau atau aku
Tapi kita
untuk : embun
Pagi Dungu
Kamu tau setiap pagi aku dungu
Raut wajahmu ada di langit - langit kamarku
Berlarian dengan langkah kecil
Mengajakku kembali ke lelapnya mimpi
Membawa bau tubuhmu tepat di samping tempat tidurku tadi malam
Membinasakan kepenatan yang kadang menjadi beban
untuk : embun
Raut wajahmu ada di langit - langit kamarku
Berlarian dengan langkah kecil
Mengajakku kembali ke lelapnya mimpi
Membawa bau tubuhmu tepat di samping tempat tidurku tadi malam
Membinasakan kepenatan yang kadang menjadi beban
untuk : embun
Berhala
Aku terus coba gerakan kaki untuk melangkah
Menerjang batu karang yang kokoh angkuh
Di antara tawa dan derita
Engkau ada
Wahai derita yang ku puja
Aku tau aku takan pernah mampu berpeluh
Hingga lusuh aku merangkak merusuh
Engkau lah embun di antara begitu banyak bulir daun
Engkau sejuk ketika pagi
Dan menguap seiring datang nya matahari
Engkau abadi
Jujur aku takan sanggup meninggalkan mu
Walau hingga akhir waktu kau kan ada dalam sanubariku
Membusuk bersama mayatku
Engkau adalah hidup untuk mati
Engkau tak akan terganti
Sampai nanti aku berdosa pada ibuku
Menduakan nya antara kau dan aku
Ingin aku membunuh mu
Karna aku begitu mencintaimu lebih dari aku
Biarkan aku menjadikan mu berhala ketika agama tak lagi ada
Aku ingin memilikimu selamanya
untuk : embun
Menerjang batu karang yang kokoh angkuh
Di antara tawa dan derita
Engkau ada
Wahai derita yang ku puja
Aku tau aku takan pernah mampu berpeluh
Hingga lusuh aku merangkak merusuh
Engkau lah embun di antara begitu banyak bulir daun
Engkau sejuk ketika pagi
Dan menguap seiring datang nya matahari
Engkau abadi
Jujur aku takan sanggup meninggalkan mu
Walau hingga akhir waktu kau kan ada dalam sanubariku
Membusuk bersama mayatku
Engkau adalah hidup untuk mati
Engkau tak akan terganti
Sampai nanti aku berdosa pada ibuku
Menduakan nya antara kau dan aku
Ingin aku membunuh mu
Karna aku begitu mencintaimu lebih dari aku
Biarkan aku menjadikan mu berhala ketika agama tak lagi ada
Aku ingin memilikimu selamanya
untuk : embun
Embun II
Tak pernah rasa nya aku rasakan malam setenang ini
Mendengar rintihan hati yang tak pernah sanggup melupakan mu wahai embun ku...
Terdengar sungguh lucu
Hingga aku tak sanggup menahan tawa ku menjerit dalam keheningan
Namun ini semua kenyataan
Takan sanggup aku membohongi pagi ini yang matahari nya terbit cerah sekali
Kamu yang selama ini mengisi setiap puisi yang ku tuliskan
Kamu adalah kenikmatan dalam kesedihan
Kebahagiaan dalam setiap tangisan
Setiap saat aku menanti mu d sela malam gelap sendiri
Dingin nya angin menusuk hati
Pernah aku singgah d beberapa rumah
Namun aku selalu rindu pada dingin nya embun ku
Ingin rasa nya matahari berhenti bersinar sejenak
Agar kau lebih lama ada membekukan ku
Agar ku punya sedikit waktu untuk menyerahkan jiwa ku pada mu
untuk : embun
Mendengar rintihan hati yang tak pernah sanggup melupakan mu wahai embun ku...
Terdengar sungguh lucu
Hingga aku tak sanggup menahan tawa ku menjerit dalam keheningan
Namun ini semua kenyataan
Takan sanggup aku membohongi pagi ini yang matahari nya terbit cerah sekali
Kamu yang selama ini mengisi setiap puisi yang ku tuliskan
Kamu adalah kenikmatan dalam kesedihan
Kebahagiaan dalam setiap tangisan
Setiap saat aku menanti mu d sela malam gelap sendiri
Dingin nya angin menusuk hati
Pernah aku singgah d beberapa rumah
Namun aku selalu rindu pada dingin nya embun ku
Ingin rasa nya matahari berhenti bersinar sejenak
Agar kau lebih lama ada membekukan ku
Agar ku punya sedikit waktu untuk menyerahkan jiwa ku pada mu
untuk : embun
Cukup aku dan tulisan ku yang tau
Kalau aku mati nanti
Aku ingin d semayamkan bersama datang nya pagi
Agar sejuk tempat tidur ku abadi
Agar bisa kurasakan
Embun menetes di kening ku
Untuk terakhir kali nya
Walau nanti di samping ku tak akan ada seseorang yang amat ku rindukan
Biarkan
Karna aku tau ia bahagia di sana bersama kekasih nya
Cukup hanya sejuk nya impian
Biar aku kubur semua nya bersama tanah yang megah
Cukup hanya aku dan tulisan ku yang tau
Apabila kematiaan yang hanya sanggup hentikan aku mendambakan mu
Tak perlu setiap saat menatap wajahmu
Aku bahagia d alam sana
Bersama impian tentang indah nya pagi tanpa matahari
Tentang malam yang memuja mu
Dan tentang aku yang tak sedetikpun ada di hati mu
untuk : embun
Aku ingin d semayamkan bersama datang nya pagi
Agar sejuk tempat tidur ku abadi
Agar bisa kurasakan
Embun menetes di kening ku
Untuk terakhir kali nya
Walau nanti di samping ku tak akan ada seseorang yang amat ku rindukan
Biarkan
Karna aku tau ia bahagia di sana bersama kekasih nya
Cukup hanya sejuk nya impian
Biar aku kubur semua nya bersama tanah yang megah
Cukup hanya aku dan tulisan ku yang tau
Apabila kematiaan yang hanya sanggup hentikan aku mendambakan mu
Tak perlu setiap saat menatap wajahmu
Aku bahagia d alam sana
Bersama impian tentang indah nya pagi tanpa matahari
Tentang malam yang memuja mu
Dan tentang aku yang tak sedetikpun ada di hati mu
untuk : embun
Usang
Kini aku coba menjenguk kuburan masa lalu ku
Antara petang dan dan dingin nya angin pagi
Berdamai dengan dilema dan menyerah pada tragis nya kematian cinta
Aku usang
Setelah sekian banyak harapan yang terlupakan
Dan terlalu banyak bersetubuh dengan kesepian
Jenuh ini telah menjadi seluruh
Seluruh tubuh menjerit memohon pengampunan atas kebosanan
Antara petang dan dan dingin nya angin pagi
Berdamai dengan dilema dan menyerah pada tragis nya kematian cinta
Aku usang
Setelah sekian banyak harapan yang terlupakan
Dan terlalu banyak bersetubuh dengan kesepian
Jenuh ini telah menjadi seluruh
Seluruh tubuh menjerit memohon pengampunan atas kebosanan
Senin, 20 September 2010
Bayangkan Damai
Tak butuh telinga ekstra untuk mendengarkan mu
Namun butuh nalar berlebih untuk memahami mu
Tidak semua yang bersuara itu ramai dan tidak semua yang bisu itu sunyi
Cukup hanya bayangkan damai
untuk : embun
Namun butuh nalar berlebih untuk memahami mu
Tidak semua yang bersuara itu ramai dan tidak semua yang bisu itu sunyi
Cukup hanya bayangkan damai
untuk : embun
Bersekutu Denganmu
Aku ingin menjadi mu
Aku ingin mu menjadi ku
Menjadi satu
Menjadi tak ragu
Kamu adalah ku
Ku adalah mu
menjadikan mu bagian dari ku
menjadikan ku bagian dari mu
Mari kita bersekutu
Tanpa ada malu
Tanpa ada kelu
Karena kita adalah lagu
Hanya ada kamu dan aku
untuk : embun
Aku ingin mu menjadi ku
Menjadi satu
Menjadi tak ragu
Kamu adalah ku
Ku adalah mu
menjadikan mu bagian dari ku
menjadikan ku bagian dari mu
Mari kita bersekutu
Tanpa ada malu
Tanpa ada kelu
Karena kita adalah lagu
Hanya ada kamu dan aku
untuk : embun
Ode Sekuntum Bunga Liar
Aku berdiri menatap ode yang seakan mati
Menentang renjana yang tak mau berdamai dengan gelisah
Dan sekuntum bunga liar menjadi layu karna amarah
Mematahkan ara yang dilanda segenap jeda
Jeda antara tapal batas ini
Sejenak kembali kental malam ini dengan keluhan
Namun kini tak ada lagi karna kau ada di sini
Usapkan jemarimu ke dahi lalu simpulkan senyum antara pipi
Kau akan sanggup membunuhku
Semua yang ada padamu membut hidupku tak berdaya
Dikotomi diri kini tak ada lagi
Hanya ada kamu, aku dan hati kita
untuk : embun
untuk : embun
Untuk Kesekian Kalinya
Untuk kesekian kali nya langit mendung
Dan untuk kesekian kali nya hujan turun
Dan untuk kesekian kali nya pula awan tak pernah lelah menyerah
Menyerah pada apa yang sudah menjadi seharusnya
Ketika lelah tak pernah singgah
Dan ketika menyerah adalah salah
Maka segalanya terasa begitu indah
Karena kalah adalah akhir dari segalanya
Pengorbanan adalah bagian dari diri
Meski mungkin diri ini tak berarti
Namun coba aku hinggapi apa yang ada dalam hati mu
Hati mu yang begitu indah bagi ku
untuk : embun
Minggu, 19 September 2010
Tentang Kita 1 [bobon]
Aku udah bikin blog bun, biar kita bisa nulis bareng apa yang kita rasain. Mungkin ini media biar kita bisa cerita panjang lebar tentang perasaan kita masing - masing. Aku inget dulu kita sering tukeran buku buat shareing, ampe itu buku lejet dah....hahahahahhaa....dan aku seneng banget waktu tau buku itu masi kamu simpen.
Malem ini sebenernya bukan malem yang tepat kayanya buat aku nulis di blog ini, karna sekarang kita lagi berantem. Tapi aku gak pernah berantem sama kamu sebenernya, tapi berantem sama diri aku sendiri yang begitu egois dan ga mau nurutin apa mau kamu, aku pengen bisa jadi apa yang kamu mau bun, aku pengen bisa jadi seseorang yang ada selalu buat kamu, aku pengen berbagi apa yang aku punya dan gak pernah berharap kamu terluka. Kamu tau, tiap kali kamu nangis,dalam hati aku juga nangis. Aku yang salah udah bikin kamu nangis, dan itu adalah kegagalan buat aku, kegagalan buat cita- citaku ngebahagiain kamu.
Malem ini kamu nangis karna kamu gak mau aku bebasin, ya kaya gitulah kurang lebih. Aku udah hapal semua sifat kamu bun, bukan yang baik nya aja tapi yang jelek nya juga, dan aku suka ma kamu tanpa kecuali, termasuk semua yang jelek yang ada pada kamu. Aku ngerti kok apa mau kamu, cuma mungkin aku yang blum bisa, aku gak bisa ngatur - ngatur kamu, aku pengen kamu jadi diri kamu, karana itu aku suka kamu, bukan suka kamu yang aku mau. Aku pengen ngejalanin semua ini dengan apa adanya biarin semua ini mengalir sesuai ma apa yang tuhan kehendakin, aku gak mau ribet, cukup hati kita yang rasain, aku cuma pengen kita bahagia bersama, nikmatin saat - saat yang indah selama kita bersama, aku akan lakuin apapun buat kamu bun asal kamu bahagia, itu yang aku bilang berbagi, kamu gak perlu ngomong aku pun tau apa yang kamu rasain, tapi mungkin saat ini aku blum bisa jadi apa yang kamu mau, untuk itu aku minta maaf sama kamu, tapi aku bakalan berusaha buat ngwujudin apa yang kamu mau, karna gak gampang ngerubah sifat mungkin aku butuh waktu saat ini buat ngewujudin nya.
Dari dulu aku cuma pengen kamu tau 1 hal kalau AKU SAYANG SAMA KAMU
Langganan:
Postingan (Atom)